Sabtu, 12 Januari 2019

"SEDIAAN EMULSI"


SEDIAAN EMULSI


Menurut FI Edisi IV, emulsi adalah system dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Stabilitas emulsi dapat dipertahankan dengan penambahan zat yang ketiga yang disebut dengan emulgator (emulsifying agent).
Emulsi berasal dari kata emulgeo yang artinya menyerupai milk atau susu, warna emulsi adalah putih. Pada abad XVII hanya dikenal emulsi dari biji-bijian yangmengandung lemak, protein dan air. Emulsi semacam ini disebut emulsi vera atau emulsi alam, sebagai emulgator dipakai protein yang terdapat dalam biji tersebut.
Pada pertengahan abad ke XVIII, ahli farmasi Perancis  memperkenalkan pembuatan emulsi dari oleum olivarum, oleum anisi dan eugenol oil dengan menggunakan penambahan gom arab, tragacanth, dan kuning telur. Emulsi yang terbentuk karena penambahan emulgator dari luar disebut emulsi spuria atau emulsi buatan.  
Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Jika minyak yang meruapakan fase terdispersi dan larutan air merupakan fase pembawa, sistem ini disebut emulsi minyak dalam air. Sebaliknya, jika air atau larutan air yang merupakan fase terdispersi dan minyak atau bahan seperti minyak sebagai fase pembawa, sistem ini disebut emulsi air dalam minyak. Emulsi dapat distabilkan dengan penambahan bahan pengemulsi yang mencegah koalesensi, yaitu penyatuan tetesan kecil menjadi tetesan besardan akhirnya menjadi suatu fase tunggal yang memisah (Levine, 1983).
Emulsi merupakan preparat farmasi yang terdiri 2 atau lebih zat cair yang sebetulnya tdk dapat bercampur (immicible) biasanya air dengan minyak lemak. Salah satu dari zat cair tersebut tersebar berbentuk butiran-butiran kecil kedalam zat cair yang lain   (emulgator/emulsifiying/surfactan). Sedang menurut Farmakope Indonesia edisi ke III, emulsi merupakan sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat terdispersi dalam cairan pembawa distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfactan yang cocok. Dalam batas emulsi, fase terdispers dianggap sebagai fase dalam dan medium dispersi sebagai fase luar atau kontinu. Emulsi yang mempunyai fase dalam minyak dan fase luar air disebut emulsi minyak-dalam-air dan biasanya diberi tanda sebagai emulsi “m/a”. Sebaliknya emulsi yang mempunyai fase dalam air dan fase luar minyak disebut emulsi air-dalam-minyak dan dikenal sebagai emulsi ‘a/m”. Karena fase luar dari suatu emulsi bersifat kontinu, suatu emulsi minyak dalam air diencerkan atau ditambahkan dengan air atau suatu preparat dalam air. Umumnya untuk membuat suatu emulsi yang stabil, perlu fase ketiga atau bagian dari emulsi, yakni: zat pengemulsi (emulsifying egent). Tergantung pada konstituennya, viskositas emulsi dapat sangat bervariasi dan emulsi farmasi bisa disiapkan sebagai cairan atau semisolid (setengah padat) (Ansel, 1989).
Zat pengemulsi (emulgator) merupakan komponen yang paling penting agar memperoleh emulsa yang stabil. Zat pengemulsi adalah PGA, tragakan, gelatin, sapo dan lain-lain. Emulsa dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu emulsi vera (emulsi alam) dan emulsi spuria (emulsi buatan). Emulsi vera dibuat dari biji atau buah, dimana terdapat disamping minyak lemak juga emulgator yang biasanya merupakan zat seperti putih telur (Anief, 2000).
Konsistensi emulsi sangat beragam, mulai dari cairan yang mudah dituang hingga krim setengah padat. Umumnya krim minyak dalam airdibuat pada suhu tinggi, berbentuk cair pada suhu ini, kemudian didinginkan pada suhu kamar, dan menjadi padat akibat terjadinya solidifikasi fase internal. Dalam hal ini, tidak diperlukan perbandingan volume fase internal terhadap volume fase eksternal yang tinggi untuk menghasilkan sifat setengah padat, misalnya krim stearat atau krim pembersih adalah setengah padat dengan fase internal hanya hanya 15%. Sifat setengah padat emulsi air dalam minyak, biasanya diakibatkan oleh fase eksternal setengah padat (Atmadja, 2000).



Polimer hidrofilik alam, semisintetik dan sintetik dapat dugunakan bersama surfakatan pada emulsi minyak dalam air karena akan terakumulasi pada antar permukaan dan juga meningkatkan kekentalan fase air, sehingga mengurangi kecepatan pembenrukan agregat tetesan. Agregasi biasanya diikuti dengan pemisahan emulsi yang relatif cepat menjadi fase yang kaya akan butiran dan yang miskin akan tetesan. Secara normal kerapatan minyak lebih rendah daripada kerapatan air, sehingga jika tetesan minyak dan agregat tetesan meningkat, terbentuk krim. Makin besar agregasi, makin besar ukuran tetesan dan makin besar pula kecepatan pembentukan krim (Moechtar, 1989).
Semua emulsi memerlukan bahan anti mikroba karena fase air mempermudah pertumbuhan mikroorganisme. Adanya pengawetan sangat penting untuk emulsi minyak dalam air karena kontaminasi fase eksternal mudah terjadi. Karena jamur dan ragi lebih sering ditemukan daripada bakteri, lebih diperlukan yang bersifat fungistatik atau bakteriostatik. Bakteri ternyata dapat menguraikan bahn pengemulsi ionik dan nonionik, gliserin dan sejumlah bahan pengemulsi alam seperti tragakan dan gom (Oktavia, 2006).
Komponen utama emulsi berupa fase disper (zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil kedalam zat cair lain (fase internal)); Fase kontinyu (zat cair yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi tersebut (fase eksternal)); dan Emulgator (zat yang digunakan dalam kestabilan emulsi). Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun eksternal, maka emulsi digolongkan menjadi 2 : Emulsi tipe w/o (emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar ke dalam minyak, air berfungsi sebagai fase internal & minyak sebagai fase eksternal) dan Emulsi tipe o/w (emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar ke dalam air) (Ansel, 1989).
B.      Komponen Emulsi        
Komponen dari emulsi dapat digolongkan menjadi 2macam yaitu:
1.Komponen Dasar
Adalah bahan pembentuk emulsiyang harus terdapat dalam emulsi yang terdiri dari:


a.       Fase dispers/fase internal/fase discontinue
Yaitu zat cair yang terbagi menjadi butiran kecil kedalam zat cair yang lain.
b.      Fafase continue/se external/fase luar
Yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahaan dasar emulsi.
c.       Emulgator
Adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi.
2. Komponen Tambahan
Merupakan bahan tambahan yang sering ditambahkan pada emulsi.untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis, corrigen odoris, corrigen colouris, preservative (pengawet) dan anti oksidan.Preservative yang digunakan Antara lain metil dan propil paraben, asam benzoat, asam sorbat, fenol, kresol, dan klorbutanol, benzalkonium klorida, fenil merkuri asetas, dll.Antioksidan yang digunakan Antara lain asam askorbat, a-tocopherol, asam sitrat, propil gallat, asam gallat.
Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun external, maka emulsi digolongkan menjadi dua macam yaitu :
1.      Emulsi tipe O/W ( oil in water ) atau M/A ( minyak dalam air ) Adalah  emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar ke dalam air. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase external.
2.      Emulsi tipe W/O ( water in oil ) atau A/M ( air dalam Minyak ) Adalah emulsi yang terdiri dari butiran yang tersebar kedalam minyak. Air sebagai fase internal dan minyak sebagai fase external.
a.  Menurut RPS
1.  M/A (Minyak/Air) : Suatu emulsi dimana minyak terdispersi sebagai tetesan-tetesan dalam fase air dan distabilkan emulsi minyak dalam air.
2.  A/M (Air/Minyak) : jika air adalah fase terdispersi dan minyak adalah medium pendispersi, maka emulsi disebut air dalam minyak.
3.  Emulsi ganda telah dikembangkan berdasarkan pencegahan pelepasan bahan aktif dalam tipe emulsi ini dihadirkan 3 fase yang disebut bentuk emulsi A/M/A atau M/A/M atau disebut emulsi dalam emulsi.

b.  Menurut Lachman
Jika tetesan-tetesan minyak didispersikan dalam fase air, fase kontinu maka emulsi disebut minyak dalam air, jika minyak merupakan tipe air dalam minyak (A/M)
Dua tipe emulsi yang tambahan yang digolongkan sebagai fase emulsi ganda, tampaknya diterima oleh para ahli kimia. Secara keseluruhan memungkinkan untuk membuat emulsi ganda dengan karakteristik minyak dalam air dalam minyak (M/A/M) atau air dalam minyak dalam air (A/M/A).

c.   Menurut Scoville’s
Dalam farmasi, cairan yang biasa digunakan dalam pembuatan emulsi adalah air minyak, berturut-turut baik emulsi minyak dalm air (M/A) atau air dalam minya (A/M).
Setiap tipe emulsi memiliki tempat tertentu dalam farmasi. Tipe minyak dalam air digunakan untuk pemakaian dalam sedangkan tipe air dalam minyak biasanya dirancang sebagai lotio atau krim secara umum untuk pemakaian luar.

d.  Menurut DOM Martin
Emulsi dipertimbangkan menjadi dispersi dari minyak dan air, fase minyak dapat dimulai dari minyak hidrokarbon hingga semisolid atau lilin padat.
Ketika minyak atau bahan lainnya didispersikan sebagai fase internal. Emulsinya disebut minyak dalam air (M/A). Air kemudian didispersikan atau merupakan fase eksternal. Sistem yang terdiri dari 31% air umumnya membentuk emulsi M/A. Kondisinya juga menentukan pada beberapa sistem, seperti 45% air diperlukan membentuk emulsi M/A. Saat aair didispersikan atau fase internal. Emulsi disebut air dalam minyak. Minyak lalu ditambahkan sebagai pendispersi atau fase eksternal, sistem yang terdiri dari kurang 25% air umumnya membentuk emulsi A/M. Beberapa sistem kadang-kadang kurang 10% akan memungkinkan pembentukan emulsi A/M.

Tipe ketiga digambarkan sebagai emulsi transparan atau mikroemulsi. Sifat transparan terjadi karena ukuran partikel yang kecil dari fase terdispersi yang umumnya 0,05 m atau lebih kecil lagi.

Emulsi dibuat untuk diperoleh suatu preparat yang stabil dan rata dari campuran dua cairan yang saling tidak bias bercampur.
Tujuan pemakaian emulsi adalah :
1.      Dipergunakan sebagai obat dalam / per oral. Umumnya emulsi tipe o/w.
2.      Dipergunakan sebagai obat luar.Bisa tipe o/w maupun w/o tergantung banyak faktor misalnya sifat zat atau jenis efek terapi yang dikehendaki.
1.      Emulsi Gas
Emulsi gas merupakan emulsi di dalam medium pendispersi gas. Aerosol cair seperti hairspray, asap rokok dan obat nyamuk semprot dapat membentuk sistem koloid dengan bantuan bahan pendorong seperti CFC. Selain itu juga mempunyai sifat seperti sol liofob yaitu efek Tyndall, gerak Brown.
2.      Emulsi Cair
Emulsi cair merupakan emulsi di dalam medium pendispersi cair. Emulsi cair melibatkan campuran dua zat cair yang tidak dapat saling melarutkan jika dicampurkan yaitu zat cair polar dan zat cair non-polar. Biasanya salah satu zat cair ini adalah air dan zat lainnya seperti minyak. Contohnya adalah pada susu. Sifat emulsi cair yang penting ialah: demulsifikasi dan pengenceran.
3.      Emulsi Padat (Gel)
Emulsi padat (gel) ialah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase padat. Hal ini berarti zat terdispersi fase cair dan medium fase padat. Contohnya mentega.
Gel yang dibedakan menjadi gel elastic dan gel non elastic dimana gel elastic ikatan partikelnya tidak kuat sedangkan non elastic ikatan antar partikelnya membentuk ikatan kovalen yang kuat.
1.      Teori Tegangan Permukaan ( Surface Tension )
Molekul memiliki daya tarik menarik antar molekul sejenis yang disebut dengan kohesi. Selain itu, molekul juga memiliki daya tarik menarik antar molekul yang tidak sejenis yang disebut dengan adhesi.
Daya kohesi suatu zat selalu sama sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseimbangan daya kohesi. Tegangan terjadi pada permukaan tersebut dinamakan dengan tegangan permukaan “surface tension”.Dengan cara yang sama dapat dijelaskan terjadinya perbedaan tegangan bidang batas dua cairan yang tidak dapat bercampur “immicble liquid”. Tegangan yang terjadi antara 2 cairan dinamakan tegangan bidang batas. “interface tension”.
2.      Teori Orientasi Bentuk Baji
Teori ini menjelaskan fenomena terbentuknya emulsi berdasarkan adanya kelarutan selektif dari bagian molekul emulgator; ada bagian yang bersifat suka air atau mudah larut dalam air dan ada moelkul yang suka minyak atau muudah larut dalam minyak.Setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua :
a.       Kelompok hidrofilik, yaitu bagian emulgator yang suka air.
b.      Kelompok lipofilik, yaitu bagian emulgator yang suka minyak.
Masing-masing kelompok akan bergabung dengan zat cair yang disenanginya, kelompok hidrofil ke dalam air dan kelompok lipofil ke dalam minyak. Dengan demikian, emulgator seolah-olah menjadi tali pengikat antara minyak dengan air dengan minyak, antara kedua kelompok tersebut akan membuat suatu kesetimbangan.Setiap jenis emulgator memiliki harga keseimbangan yang besarnya tidak sama. Harga keseimbangan itu dikenal dengan istilah HLB ( Hydrophyl Lypophyl Balance ) yaitu angka yang menunjukan perbandingan Antara kelompok lipofil dengan kelompok hidrofil.
Semakin besar harga HLB berarti semakin banyak kelompok yang suka pada air, itu artinya emulgator tersebut lebih mudah larut dalam air dan demikian sebaliknya.dalam table dibawah ini dapat dilihat kegunaan suatu emulgator ditinjau dari harga HLB-nya.Tabel Harga :
HARGA HLB
KEGUNAAN
1-3
4-6
7-9
8-18
13-15
10-18
Anti foaming agent
Emulgator tipe w/o
Bahan pembasah ( wetting agent )
Emulgator tipe o/w
Detergent
Kelarutan ( solubilizing agent )

3.      Teori Interparsial Film ( Teori Plastic Film )
Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dengan minyak, sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase dispers atau fase internal. Dengan terbungkusnya partikel tersebut, usaha antar partikel sejenis untuk bergabung menjadi terhalang. Dengan kata lain, fase dispers menjadi stabil. Untuk memberikan stabilitas maksimum, syarat emulgator yang dipakai adalah :
a.       Dapat membentuk lapisan film yang kuat tetapi lunak.
b.      Jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fase dispers.
c.        Dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semua partikel dengan segera.
4.       Teori Electric Double Layer ( lapisan listrik rangkap )
Jika minyak terdispersi ke dalam air, satu lapis air yang langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis, sedangkan lapisan berikutnya akan mempunyai muatan yang berlawanan dengan lapisan di depannya. Dengan demikian seolah-olah tiap partikel    minyak dilindungi oleh 2 benteng lapisan listrik yang saling berlawanan. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha partikel minyak yang akan melakukan penggabungan menjadi satu molekul yang besar, karena susunan listrik yang menyelubungi setiap partikel minyak yang mempunyai susunan yang sama. Dengan demikian, antara sesame partikel akan tolak menolak. Dan stabilitas akan bertambah.Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari ketiga cara di bawah ini:
a.       Terjadinya ionisasi molekul pada permukaan partikel.
b.      Terjadinya adsorpsi ion oleh partikel dari cairan disekitarnya.
c.       Terjadinya gesekan partikel dengan cairan di sekitarnya.

Yaitu emulgator yang diperoleh dari alam tanpa proses yang rumit. dapat digolongkan menjadi tiga golongan yaitu :
1. Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan
Pada umumnya termasuk karbohydrat dan merupakan emulgator tipe o/w, sangat peka terhadap elektrolit dan alkohol kadar tinggi, juga dapat dirusak oleh bakteri. Oleh sebab itu pada pembuatan emulsi dengan emulgator ini harus selalu ditambah bahan pengawet.
a. Gom Arab
Sangat baik untuk emulgator tipe o/w dan untuk obat minum. Kestabilan emulsi yang dibuat dengan gom  arab berdasarkan 2 faktor yaitu :
·         Kerja gom sebagai koloid pelindung ( teori plastic film )
·         Terbentuknya cairan yang cukup kental sehingga pengeendapan cukup kecil sedangkan masa mudah dituang.bila tidak dikatakan lain maka emulsi dengan gom arab,jumlah gom arab yang digunakan ½ dari jumlah minyak.untuk membuat corpus emulsi diperlukan air 1,,5 x berat gom, diaduk keras dan cepat sampai berwarna putih, lalu diencerkan sisa airnya.
·      Cara pembuatan
Lemak padat dilebur lalu ditambahkan gom,buat corpus emulsi dengan air panas 1,5 x berat gom. Dinginkan dan encerkan emulsi dengan air dingin. Contoh cera, oleum cacao, paraffin solid.   Minyak atsiri : PGA sama banyak dengan minyak atsiri. Minyak lemak : PGA ½ kali berat minyak.Kecuali  oleum ricini hanya 1/3 nya saja. Contoh : Oleum amygdalarum.
Minyak lemak + minyak atsiri + Zat padat larut dalam minyak lemak.
Kedua minyak dicampur dulu, zat padat dilarutkan dalam minyaknya, tambahkan gom( ½ x minyak lemak + aa x minyak asiri + aa x zat padat ).
·         Bahan obat cair BJ tinggi seperti cloroform dan bromoform.ditambah minyak lemak 10 x beratnya, maka BJ campuran mendekati satu. Gom yang digunakan ¾ x bahan obat cair.
·        Balsam-balsam.Jumlah gom 2x jumlah bahan.
·       Oleum lecoris aseli.Menurut Fornas dipaakai gom 30 % dari berat minyak.Tragacanth ,Agar-agar,Chondrus, Emulgator lain,Pektin, metil selulosa, CMC 1-2 %.
2.      Emulgator alam dari hewan
a.       Kuning telur adalah zat ini Mmpu  mengemulsikan minyak lemak 4 x   beratnya dan minyak menguap 2 x beratnya.          
b.       Adeps Lanae adalah dalam keadaan kering dapat menyerap air 2 x beratnya.
3.      Emulgator alam dari tanah mineral

1. Magnesium Alumunium Silikat / Veegum
Pemakaian yang lazim yaitu sebanyak 1%. Emulsi ini khusus untuk pemakaian luar.
2.Bentonit
   Untuk tujuan sebagai emulgator dipakai sebanyak 5% .
3. Mulgator Buatan
     1.  Sabun,Sangat banyak dipakai untuk tujuan luar, sangat peka   terhadap elektrolit.
                                   2. Tween 20 : 40 : 60 : 80
                                   3. Span 20 : 40 : 80
Emulgator golongan surfaktan dapat dikelompokan menjadi :
·         Anionik                : sabun alkali, natrium lauryl sulfat
·         Kationik               : senyawa ammonium kuartener
·         Non Ionik             : tween dan span
·          Amfoter               : protein, lesitin

Dikenal 3 metode dalam pembuatan emulsi, secara singkat dapat dijelaskan :
  1. Metode gom kering atau metode continental
Zat pengemulsi ( gom arab ) dicampur dengan minyak, kemudian tambahkan air untuk pembentukan corpus emulsi, baru di encerkan dengan sisa air yang tersedia.
  1. Metode gom basah atau metode Inggris
Zat pengemulsi ditambahkan ke dalam air ( zat pengemulsi umumnya larut) agar membentuk suatu mucillago, kemudian perlahan-lahan minyak dicampurkan untuk membentuk emulsi, setelah itu baru diencerkan dengan sisa air. Disebut pula sebagai metode Inggris, cocok untuk penyiapan emulsi dengan musilago atau melarutkan gum sebagai emulgator, dan menggunakan perbandingan 4;2;1 sama seperti metode gom kering. Metode ini dipilih jika emulgator yang digunakan harus dilarutkan/didispersikan terlebuh dahulu kedalam air misalnya metilselulosa. 1 bagian gom ditambahkan 2 bagian air lalu diaduk, dan minyak ditambahkan sedikit demi sedikit

  1. Metode botol atau metode botol forbes
Digunakan untuk minyak menguap dan zat-zat yang bersifat minyak dan mempunyai viskositas rendah ( kurang kental ). Minyak dan serbuk gom dimasukkan ke dalam botol kering, kemudian ditambahkan 2 bagian air, tutup botol kemudian campuran tersebut dikocok kuat. Tambahkan sisa air sedikit demi sedikit sabil dikocok.Disebut pula metode Forbes. Metode inii digunakan untuk emulsi dari bahan-bahan menguap dan minyak-minyak dengan kekentalan yang rendah. Metode ini merrupakan variasi dari metode gom kering atau metode gom basah. Emulsi terutama dibuat dengan pengocokan kuat dan kemudian diencerkan dengan fase luar.Dalam botol kering, emulgator yang digunakan ¼ dari jumlah minyak. Ditambahkan dua bagian air lalu dikocok kuat-kuat, suatu volume air yang sama banyak dengan minyak ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus dikocok, setelah emulsi utama terbentuk, dapat diencerkan dengan air sampai volume yang tepat.
4.      Metode Penyabunan In Situ
a. Sabun Kalsium
Emulsi a/m yang terdiri dari campuran minyak sayur dan air jeruk,yang dibuat dengan sederhana yaitu mencampurkan minyak dan air dalam jumlah yang sama dan dikocok kuat-kuat. Bahan pengemulsi, terutama kalsium oleat, dibentuk secara in situ disiapkan dari minyak sayur alami yang mengandung asam lemak bebas.
b. Sabun Lunak
Metode ini, basis di larutkan dalam fase air dan asam lemak dalam fase minyak. Jika perlu, maka bahan dapat dilelehkan, komponen tersebut dapat dipisahkan dalam dua gelas beker dan dipanaskan hingga meleleh, jika kedua fase telah mencapai temperature yang sama, maka fase eksternal ditambahkan kedalam fase internal dengan pengadukan.
c. Pengemulsi Sintetik
Alat yang digunakan dalam pembuatan emulsi, untuk pembuatan emulsi yang baik.
1.      Mortar dan stamper
2.      Botol
3.    Mixer, blender
4.    Homogenizer
5.    Colloid mill

Alat – alat yang digunakan dalam pembuatan emulsi untuk membuat emulsi  biasa digunakan :
1.      Mortir dan stamper
Mortir dengan permukaan kasar merupakan mortir pilihan untuk pembuatan emulsi yang baik.
2.      Botol
Mengocok emulsi dalam botol secara terputus-putus lebih baik daripada terus menerus, hal tersebut memberi kesempatan pada emulgator untuk bekerja sebelum pengocokan berikutnya.
3.      Mixer, blender
Partikel fase disper dihaluskan dengan cara dimasukkan kedalam ruangan yang didalamnya terdapat pisau berputar dengan kecepatan tinggi , akibat putaran pisau tersebut, partikel akan berbentuk kecil-kecil.
4.      Homogeniser
Dalam homogenizer dispersi dari kedua cairan terjadi karena campuran dipaksa melalui saluran lubang kecil dengan tekanan besar.
5.      Colloid Mill
Terdiri atas rotor dan stator dengan permukaan penggilingan yang dapat diatur. Coloid mill digunakan untuk memperoleh  derajat dispersi yang tinggi cairan dalam cairan.

Dikenal beberapa cara membedakan tipe emulsi yaitu :
1.      Dengan pengenceran fase.
Setiap emulsi dapat diencerkan dengan fase externalnya. Dengan prinsip  tersebut, emulsi tipe o/w dapat diencerkan dengan air sedangkan emulsi tipe w/o dapat diencerkan dengan minyak.
2.      Dengan pengecatan / pemberian warna.
Zat warna akan tersebar dalam emulsi apabila zat tersebut larut dalam fase external dari emulsi tersebut. Misalnya  ( dilihat dibawah mikroskop ) .
  Emulsi + larutan Sudan III dapat memberi warana merah emulsi tipe w/o, karena Sudan III larut dalam minyak.
  Emulsi + larutan metilen blue dapat memberi warna biru pada emulsi tipe o/w karena metilen blue larut dalam air.
3.      Dengan kertas saring.
Bila emulsi diteteskan pada kertas saring, kertas saring menjadi basah maka tipe emulsi o/w,dan bila timbul noda minyak oada kertas berarti wmulsi tipe w/o.
4.      Dengan konduktivitas listrik
Alat yang dipakai adalah kawat dan stop kontak, kawat dengan tahanan 10 K ½ watt , lampu neon ¼ watt, dihubungkan secara seri. Elektroda dicelupkan dalam cairan emulsi. Lampu neon akan menyala bila elektroda dicelupkan dalam cairan emulsi tipe o/w, dan akan mati bila dicelupkan pada emulsi tipe w/o .



Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami hal-hal seperti dibawah ini :
1.      Creaming
Yaitu terpisahnya emulsi menjadi 2 lapisan, dimana yang satu mengandung fase dispers lebih banyak dari pada lapisan yang lain. Creaming bersifat reversible artinya  bila dokocok perlahan-lahan akan terdispersi kembali.
2.      Koalesan dan cracking ( breaking )
Yaitu pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesan ( menyatu ). Sifatnya irreversible ( tidak bias diperbaiki ). Hal ini dapat terjadi karena :
  Peristiwa kimia, seperti penambahan alkohol, perubahan pH, penambahan CaO / CaCl2 exicatus.
  Peristiwa fisika, seperti pemanasan, penyaringan, pendinginan, pengadukan.
3.   Inversi
Yaitu peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe eulsi w/o menjadi o/w atau sebaliknya. Sifatnya irreversible.




§ Kelebihan :
a.    Dapat membentuk sediaan yang saling tidak bercampur menjadi dapat bersatu menjadi sediaan yang homogen dan bersatu dan mudah ditelan.
b.   Dapat menutupi rasa yang tidak enak pada obat.
·      Kekurangan :
a.       Kurang praktis dan staabilits rendah dibanding tablet.
b.    Takaran dosis kurang teliti.
·         Keuntungan emulsi
Menurut Lachman:
1. Bioavalaibilitas besar
2. Onset lebih cepat
3. Penerimaan pasien mudah diberikan pada anak-anak
4. Rasa obat, minyak jeruk bisa ditutupi oleh penambahan zat tambahan lain.
5. Formulasi, karena bisa mempertahankan stabilitas obat yang larut dalam minyak.

- Menurut Ansel:
1. Menurut eleganti tertentu dan mudah dicuci.
2. Dapat mengontrol penampilan, viskositas dan derajat kekasaran dari emulsi.
3. Sebagian besar lemak dan pelarut untuk lemak yang dimasukkan untuk pemakaian ke dalam tubuh manusia, relatif memakan biaya, akibatnya pengenceran yang aman dan tidak mahal.

·         Kerugian emulsi
Menurut Lachman
1.Sulit diformulasikan karena harus mencampur 2 fase yang tidak tercampurkan.
2. Mudah ditumbuhi oleh mikroba karena adanya air.
3. Kestabilan fisika dan kimia terjamin dalam waktu lama.


- Menurut Ansel
1. Emulsi merupakan suatu campuran yang tidak stabil secara termodinamika.
2. Jika pengocokan ditentukan, tetesan akan bergabung menjadi satu dengan cepat.
        3. Biasanya hanya satu fase yang bertahan dalam bentuk tetesan.


2 komentar:

“Penggolongan Obat” A.Definisi Obat Menurut Undang-undan...