SEDIAAN EMULSI
Menurut FI Edisi IV, emulsi adalah system dua fase yang
salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan
kecil. Stabilitas emulsi dapat dipertahankan dengan penambahan zat yang ketiga
yang disebut dengan emulgator (emulsifying agent).
Emulsi berasal dari kata emulgeo yang artinya menyerupai
milk atau susu, warna emulsi adalah putih. Pada abad XVII hanya dikenal emulsi
dari biji-bijian yangmengandung lemak, protein dan air. Emulsi semacam ini
disebut emulsi vera atau emulsi alam, sebagai emulgator dipakai protein yang
terdapat dalam biji tersebut.
Pada pertengahan abad ke XVIII, ahli farmasi Perancis
memperkenalkan pembuatan emulsi dari oleum olivarum, oleum anisi dan eugenol
oil dengan menggunakan penambahan gom arab, tragacanth, dan kuning telur.
Emulsi yang terbentuk karena penambahan emulgator dari luar disebut emulsi
spuria atau emulsi buatan.
Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah
satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil.
Jika minyak yang meruapakan
fase terdispersi dan larutan air merupakan fase pembawa, sistem ini disebut
emulsi minyak dalam air. Sebaliknya, jika air atau larutan air yang merupakan
fase terdispersi dan minyak atau bahan seperti minyak sebagai fase pembawa,
sistem ini disebut emulsi air dalam minyak. Emulsi dapat distabilkan dengan
penambahan bahan pengemulsi yang mencegah koalesensi, yaitu penyatuan tetesan
kecil menjadi tetesan besardan akhirnya menjadi suatu fase tunggal yang memisah
(Levine,
1983).
Emulsi
merupakan preparat farmasi yang terdiri 2 atau lebih zat cair yang sebetulnya
tdk dapat bercampur (immicible) biasanya air dengan minyak lemak. Salah satu
dari zat cair tersebut tersebar berbentuk butiran-butiran kecil kedalam zat
cair yang lain (emulgator/emulsifiying/surfactan). Sedang
menurut Farmakope Indonesia edisi ke III, emulsi merupakan sediaan yang
mengandung bahan obat cair atau larutan obat terdispersi dalam cairan pembawa
distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfactan yang cocok. Dalam batas emulsi, fase terdispers dianggap
sebagai fase dalam dan medium dispersi sebagai fase luar atau kontinu. Emulsi
yang mempunyai fase dalam minyak dan fase luar air disebut emulsi minyak-dalam-air
dan biasanya diberi tanda sebagai emulsi “m/a”. Sebaliknya emulsi yang
mempunyai fase dalam air dan fase luar minyak disebut emulsi air-dalam-minyak
dan dikenal sebagai emulsi ‘a/m”. Karena fase luar dari suatu emulsi bersifat
kontinu, suatu emulsi minyak dalam air diencerkan atau ditambahkan dengan air
atau suatu preparat dalam air. Umumnya untuk membuat suatu emulsi yang stabil,
perlu fase ketiga atau bagian dari emulsi, yakni: zat pengemulsi (emulsifying
egent). Tergantung pada konstituennya, viskositas emulsi dapat sangat
bervariasi dan emulsi farmasi bisa disiapkan sebagai cairan atau semisolid
(setengah padat) (Ansel, 1989).
Zat pengemulsi (emulgator)
merupakan komponen yang paling penting agar memperoleh emulsa yang stabil. Zat
pengemulsi adalah PGA, tragakan, gelatin, sapo dan lain-lain. Emulsa dapat
dibedakan menjadi dua macam yaitu emulsi vera (emulsi alam) dan emulsi spuria
(emulsi buatan). Emulsi vera dibuat dari biji atau buah, dimana terdapat
disamping minyak lemak juga emulgator yang biasanya merupakan zat seperti putih
telur (Anief, 2000).
Konsistensi emulsi sangat
beragam, mulai dari cairan yang mudah dituang hingga krim setengah padat.
Umumnya krim minyak dalam airdibuat pada suhu tinggi, berbentuk cair pada suhu
ini, kemudian didinginkan pada suhu kamar, dan menjadi padat akibat terjadinya
solidifikasi fase internal. Dalam hal ini, tidak diperlukan perbandingan volume
fase internal terhadap volume fase eksternal yang tinggi untuk menghasilkan
sifat setengah padat, misalnya krim stearat atau krim pembersih adalah setengah
padat dengan fase internal hanya hanya 15%. Sifat setengah padat emulsi air
dalam minyak, biasanya diakibatkan oleh fase eksternal setengah padat (Atmadja, 2000).
Polimer hidrofilik alam,
semisintetik dan sintetik dapat dugunakan bersama surfakatan pada emulsi minyak
dalam air karena akan terakumulasi pada antar permukaan dan juga meningkatkan
kekentalan fase air, sehingga mengurangi kecepatan pembenrukan agregat tetesan.
Agregasi biasanya diikuti dengan pemisahan emulsi yang relatif cepat menjadi
fase yang kaya akan butiran dan yang miskin akan tetesan. Secara normal
kerapatan minyak lebih rendah daripada kerapatan air, sehingga jika tetesan
minyak dan agregat tetesan meningkat, terbentuk krim. Makin besar agregasi,
makin besar ukuran tetesan dan makin besar pula kecepatan pembentukan krim (Moechtar,
1989).
Semua emulsi memerlukan bahan anti mikroba
karena fase air mempermudah pertumbuhan mikroorganisme. Adanya pengawetan
sangat penting untuk emulsi minyak dalam air karena kontaminasi fase eksternal
mudah terjadi. Karena jamur dan ragi lebih sering ditemukan daripada bakteri,
lebih diperlukan yang bersifat fungistatik atau bakteriostatik. Bakteri
ternyata dapat menguraikan bahn pengemulsi ionik dan nonionik, gliserin dan
sejumlah bahan pengemulsi alam seperti tragakan dan gom (Oktavia, 2006).
Komponen utama emulsi berupa fase disper (zat
cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil kedalam zat cair lain (fase
internal)); Fase kontinyu (zat cair yang berfungsi sebagai bahan dasar
(pendukung) dari emulsi tersebut (fase eksternal)); dan Emulgator (zat yang
digunakan dalam kestabilan emulsi). Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi
sebagai fase internal ataupun eksternal, maka emulsi digolongkan menjadi 2 :
Emulsi tipe w/o (emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar ke dalam
minyak, air berfungsi sebagai fase internal & minyak sebagai fase
eksternal) dan Emulsi tipe o/w (emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang
tersebar ke dalam air) (Ansel, 1989).
Komponen dari emulsi dapat
digolongkan menjadi 2macam yaitu:
1.Komponen Dasar
Adalah bahan pembentuk emulsiyang
harus terdapat dalam emulsi yang terdiri dari:
a. Fase dispers/fase internal/fase
discontinue
Yaitu zat cair yang terbagi menjadi
butiran kecil kedalam zat cair yang lain.
b. Fafase continue/se external/fase
luar
Yaitu zat cair dalam emulsi yang
berfungsi sebagai bahaan dasar emulsi.
c. Emulgator
Adalah bagian dari emulsi yang
berfungsi untuk menstabilkan emulsi.
2. Komponen Tambahan
Merupakan bahan
tambahan yang sering ditambahkan pada emulsi.untuk memperoleh hasil yang lebih
baik. Misalnya corrigen saporis, corrigen odoris, corrigen colouris,
preservative (pengawet) dan anti oksidan.Preservative yang digunakan Antara
lain metil dan propil paraben, asam benzoat, asam sorbat, fenol, kresol, dan
klorbutanol, benzalkonium klorida, fenil merkuri asetas, dll.Antioksidan yang
digunakan Antara lain asam askorbat, a-tocopherol, asam sitrat, propil gallat,
asam gallat.
Berdasarkan
macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun external, maka
emulsi digolongkan menjadi dua macam yaitu :
1. Emulsi tipe O/W ( oil in water )
atau M/A ( minyak dalam air ) Adalah emulsi
yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar ke dalam air. Minyak sebagai
fase internal dan air sebagai fase external.
2. Emulsi tipe W/O ( water in oil )
atau A/M ( air dalam Minyak ) Adalah emulsi yang terdiri dari butiran yang
tersebar kedalam minyak. Air sebagai fase internal dan minyak sebagai fase
external.
a. Menurut RPS
1. M/A (Minyak/Air) : Suatu emulsi
dimana minyak terdispersi sebagai tetesan-tetesan dalam fase air dan
distabilkan emulsi minyak dalam air.
2. A/M (Air/Minyak) : jika air
adalah fase terdispersi dan minyak adalah medium pendispersi, maka emulsi disebut
air dalam minyak.
3. Emulsi ganda telah dikembangkan
berdasarkan pencegahan pelepasan bahan aktif dalam tipe emulsi ini dihadirkan 3
fase yang disebut bentuk emulsi A/M/A atau M/A/M atau disebut emulsi dalam
emulsi.
b. Menurut Lachman
Jika tetesan-tetesan minyak didispersikan dalam fase air,
fase kontinu maka emulsi disebut minyak dalam air, jika minyak merupakan tipe
air dalam minyak (A/M)
Dua tipe emulsi yang tambahan yang digolongkan sebagai
fase emulsi ganda, tampaknya diterima oleh para ahli kimia. Secara keseluruhan
memungkinkan untuk membuat emulsi ganda dengan karakteristik minyak dalam air
dalam minyak (M/A/M) atau air dalam minyak dalam air (A/M/A).
c. Menurut
Scoville’s
Dalam farmasi, cairan yang biasa digunakan dalam
pembuatan emulsi adalah air minyak, berturut-turut baik emulsi minyak dalm air
(M/A) atau air dalam minya (A/M).
Setiap tipe emulsi memiliki tempat tertentu dalam
farmasi. Tipe minyak dalam air digunakan untuk pemakaian dalam sedangkan tipe
air dalam minyak biasanya dirancang sebagai lotio atau krim secara umum untuk
pemakaian luar.
d. Menurut DOM
Martin
Emulsi dipertimbangkan menjadi dispersi dari
minyak dan air, fase minyak dapat dimulai dari minyak hidrokarbon hingga
semisolid atau lilin padat.
Ketika minyak atau bahan lainnya
didispersikan sebagai fase internal. Emulsinya disebut minyak dalam air (M/A).
Air kemudian didispersikan atau merupakan fase eksternal. Sistem yang terdiri
dari 31% air umumnya membentuk emulsi M/A. Kondisinya juga menentukan pada
beberapa sistem, seperti 45% air diperlukan membentuk emulsi M/A. Saat aair
didispersikan atau fase internal. Emulsi disebut air dalam minyak. Minyak lalu
ditambahkan sebagai pendispersi atau fase eksternal, sistem yang terdiri dari
kurang 25% air umumnya membentuk emulsi A/M. Beberapa sistem kadang-kadang
kurang 10% akan memungkinkan pembentukan emulsi A/M.
Tipe ketiga digambarkan sebagai emulsi
transparan atau mikroemulsi. Sifat transparan terjadi karena ukuran partikel
yang kecil dari fase terdispersi yang umumnya 0,05 m atau lebih kecil lagi.
Emulsi dibuat untuk diperoleh suatu
preparat yang stabil dan rata dari campuran dua cairan yang saling tidak bias
bercampur.
Tujuan
pemakaian emulsi adalah :
1. Dipergunakan sebagai obat dalam /
per oral. Umumnya emulsi tipe o/w.
2. Dipergunakan sebagai obat luar.Bisa
tipe o/w maupun w/o tergantung banyak faktor misalnya sifat zat atau jenis efek
terapi yang dikehendaki.
1. Emulsi Gas
Emulsi gas merupakan emulsi di dalam medium pendispersi
gas. Aerosol cair seperti hairspray, asap
rokok
dan obat nyamuk semprot
dapat membentuk sistem koloid
dengan bantuan bahan pendorong seperti CFC. Selain itu juga mempunyai sifat seperti
sol liofob yaitu efek Tyndall, gerak Brown.
2. Emulsi Cair
Emulsi cair merupakan emulsi di dalam medium pendispersi
cair. Emulsi cair melibatkan campuran dua zat cair yang tidak dapat saling
melarutkan jika dicampurkan yaitu zat cair polar dan zat cair non-polar.
Biasanya salah satu zat cair ini adalah air dan zat lainnya seperti minyak.
Contohnya adalah pada susu. Sifat emulsi cair yang penting ialah: demulsifikasi
dan pengenceran.
3. Emulsi Padat (Gel)
Emulsi padat (gel)
ialah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase padat. Hal ini
berarti zat terdispersi fase cair dan medium fase padat. Contohnya
mentega.
Gel yang dibedakan menjadi gel
elastic dan gel non elastic dimana gel elastic ikatan partikelnya tidak kuat
sedangkan non elastic ikatan antar partikelnya membentuk ikatan kovalen yang
kuat.
1. Teori Tegangan Permukaan ( Surface
Tension )
Molekul
memiliki daya tarik menarik antar molekul sejenis yang disebut dengan kohesi.
Selain itu, molekul juga memiliki daya tarik menarik antar molekul yang tidak
sejenis yang disebut dengan adhesi.
Daya kohesi suatu zat selalu sama
sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan karena
tidak adanya keseimbangan daya kohesi. Tegangan terjadi pada permukaan tersebut
dinamakan dengan tegangan permukaan “surface tension”.Dengan cara yang sama
dapat dijelaskan terjadinya perbedaan tegangan bidang batas dua cairan yang
tidak dapat bercampur “immicble liquid”. Tegangan yang terjadi antara 2 cairan
dinamakan tegangan bidang batas. “interface tension”.
2. Teori Orientasi Bentuk Baji
Teori ini
menjelaskan fenomena terbentuknya emulsi berdasarkan adanya kelarutan selektif
dari bagian molekul emulgator; ada bagian yang bersifat suka air atau mudah
larut dalam air dan ada moelkul yang suka minyak atau muudah larut dalam
minyak.Setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua :
a. Kelompok hidrofilik, yaitu bagian
emulgator yang suka air.
b. Kelompok lipofilik, yaitu bagian
emulgator yang suka minyak.
Masing-masing
kelompok akan bergabung dengan zat cair yang disenanginya, kelompok hidrofil ke
dalam air dan kelompok lipofil ke dalam minyak. Dengan demikian, emulgator
seolah-olah menjadi tali pengikat antara minyak dengan air dengan minyak,
antara kedua kelompok tersebut akan membuat suatu kesetimbangan.Setiap jenis
emulgator memiliki harga keseimbangan yang besarnya tidak sama. Harga
keseimbangan itu dikenal dengan istilah HLB ( Hydrophyl Lypophyl Balance )
yaitu angka yang menunjukan perbandingan Antara kelompok lipofil dengan
kelompok hidrofil.
Semakin
besar harga HLB berarti semakin banyak kelompok yang suka pada air, itu artinya
emulgator tersebut lebih mudah larut dalam air dan demikian sebaliknya.dalam table
dibawah ini dapat dilihat kegunaan suatu emulgator ditinjau dari harga HLB-nya.Tabel
Harga :
|
HARGA
HLB
|
KEGUNAAN
|
|
1-3
4-6
7-9
8-18
13-15
10-18
|
Anti
foaming agent
Emulgator
tipe w/o
Bahan
pembasah ( wetting agent )
Emulgator
tipe o/w
Detergent
Kelarutan
( solubilizing agent )
|
3. Teori Interparsial Film ( Teori
Plastic Film )
Teori ini
mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dengan minyak,
sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase dispers atau
fase internal. Dengan terbungkusnya partikel tersebut, usaha antar partikel
sejenis untuk bergabung menjadi terhalang. Dengan kata lain, fase dispers
menjadi stabil. Untuk memberikan stabilitas maksimum, syarat emulgator yang
dipakai adalah :
a. Dapat membentuk lapisan film yang
kuat tetapi lunak.
b. Jumlahnya cukup untuk menutup semua
permukaan partikel fase dispers.
c. Dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan
dapat menutup semua partikel dengan segera.
4. Teori Electric Double Layer ( lapisan listrik
rangkap )
Jika minyak
terdispersi ke dalam air, satu lapis air yang langsung berhubungan dengan
permukaan minyak akan bermuatan sejenis, sedangkan lapisan berikutnya akan
mempunyai muatan yang berlawanan dengan lapisan di depannya. Dengan demikian
seolah-olah tiap partikel minyak
dilindungi oleh 2 benteng lapisan listrik yang saling berlawanan. Benteng
tersebut akan menolak setiap usaha partikel minyak yang akan melakukan
penggabungan menjadi satu molekul yang besar, karena susunan listrik yang
menyelubungi setiap partikel minyak yang mempunyai susunan yang sama. Dengan
demikian, antara sesame partikel akan tolak menolak. Dan stabilitas akan
bertambah.Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari ketiga cara
di bawah ini:
a. Terjadinya ionisasi molekul pada
permukaan partikel.
b. Terjadinya adsorpsi ion oleh
partikel dari cairan disekitarnya.
c. Terjadinya gesekan partikel dengan
cairan di sekitarnya.
Yaitu
emulgator yang diperoleh dari alam tanpa proses yang rumit. dapat digolongkan
menjadi tiga golongan yaitu :
1. Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan
Pada umumnya termasuk karbohydrat
dan merupakan emulgator tipe o/w, sangat peka terhadap elektrolit dan alkohol
kadar tinggi, juga dapat dirusak oleh bakteri. Oleh sebab itu pada pembuatan
emulsi dengan emulgator ini harus selalu ditambah bahan pengawet.
a. Gom
Arab
Sangat baik untuk emulgator tipe o/w
dan untuk obat minum. Kestabilan emulsi yang dibuat dengan gom arab
berdasarkan 2 faktor yaitu :
·
Kerja
gom sebagai koloid pelindung ( teori plastic film )
·
Terbentuknya
cairan yang cukup kental sehingga pengeendapan cukup kecil sedangkan masa mudah
dituang.bila tidak dikatakan lain maka emulsi dengan gom arab,jumlah gom arab
yang digunakan ½ dari jumlah minyak.untuk membuat corpus emulsi diperlukan air
1,,5 x berat gom, diaduk keras dan cepat sampai berwarna putih, lalu diencerkan
sisa airnya.
· Cara
pembuatan
Lemak padat dilebur lalu ditambahkan
gom,buat corpus emulsi dengan air panas 1,5 x berat gom. Dinginkan dan encerkan
emulsi dengan air dingin. Contoh cera, oleum cacao, paraffin solid. Minyak atsiri : PGA sama banyak dengan minyak atsiri. Minyak lemak : PGA ½ kali berat minyak.Kecuali oleum
ricini hanya 1/3 nya saja. Contoh : Oleum amygdalarum.
Minyak lemak + minyak atsiri + Zat
padat larut dalam minyak lemak.
Kedua minyak dicampur dulu, zat
padat dilarutkan dalam minyaknya, tambahkan gom( ½ x minyak lemak + aa x minyak
asiri + aa x zat padat ).
·
Bahan
obat cair BJ tinggi seperti cloroform dan bromoform.ditambah minyak lemak 10 x
beratnya, maka BJ campuran mendekati satu. Gom yang digunakan ¾ x bahan obat
cair.
· Balsam-balsam.Jumlah gom 2x jumlah bahan.
· Oleum lecoris aseli.Menurut Fornas
dipaakai gom 30 % dari berat minyak.Tragacanth ,Agar-agar,Chondrus, Emulgator
lain,Pektin, metil selulosa, CMC 1-2 %.
2. Emulgator alam dari hewan
a. Kuning telur adalah zat ini Mmpu
mengemulsikan minyak lemak 4 x beratnya
dan minyak menguap 2 x beratnya.
b. Adeps Lanae adalah dalam
keadaan kering dapat menyerap air 2 x beratnya.
3. Emulgator alam dari tanah mineral
1. Magnesium
Alumunium Silikat / Veegum
Pemakaian yang lazim yaitu sebanyak
1%. Emulsi ini khusus untuk pemakaian luar.
2.Bentonit
Untuk tujuan sebagai emulgator dipakai
sebanyak 5% .
3.
Mulgator Buatan
1. Sabun,Sangat banyak dipakai
untuk tujuan luar, sangat peka terhadap
elektrolit.
2. Tween
20 : 40 : 60 : 80
3. Span 20 :
40 : 80
Emulgator golongan surfaktan dapat
dikelompokan menjadi :
·
Anionik
: sabun alkali, natrium lauryl sulfat
·
Kationik
: senyawa ammonium kuartener
·
Non
Ionik :
tween dan span
·
Amfoter
: protein, lesitin
Dikenal 3
metode dalam pembuatan emulsi, secara singkat dapat dijelaskan :
- Metode gom kering atau metode continental
Zat pengemulsi ( gom arab ) dicampur
dengan minyak, kemudian tambahkan air untuk pembentukan corpus emulsi, baru di
encerkan dengan sisa air yang tersedia.
- Metode gom basah atau metode Inggris
Zat pengemulsi ditambahkan ke dalam air ( zat pengemulsi
umumnya larut) agar membentuk suatu mucillago, kemudian perlahan-lahan minyak
dicampurkan untuk membentuk emulsi, setelah itu baru diencerkan dengan sisa
air. Disebut pula sebagai metode Inggris, cocok
untuk penyiapan emulsi dengan musilago atau melarutkan gum sebagai emulgator,
dan menggunakan perbandingan 4;2;1 sama seperti metode gom kering. Metode ini
dipilih jika emulgator yang digunakan harus dilarutkan/didispersikan terlebuh
dahulu kedalam air misalnya metilselulosa. 1 bagian gom ditambahkan 2 bagian
air lalu diaduk, dan minyak ditambahkan sedikit demi sedikit
- Metode botol atau metode botol forbes
Digunakan
untuk minyak menguap dan zat-zat yang bersifat minyak dan mempunyai viskositas
rendah ( kurang kental ). Minyak dan serbuk gom dimasukkan ke dalam botol
kering, kemudian ditambahkan 2 bagian air, tutup botol kemudian campuran
tersebut dikocok kuat. Tambahkan sisa air sedikit demi sedikit sabil dikocok.Disebut
pula metode Forbes. Metode inii digunakan untuk emulsi dari bahan-bahan menguap
dan minyak-minyak dengan kekentalan yang rendah. Metode ini merrupakan variasi
dari metode gom kering atau metode gom basah. Emulsi terutama dibuat dengan
pengocokan kuat dan kemudian diencerkan dengan fase luar.Dalam botol kering,
emulgator yang digunakan ¼ dari jumlah minyak. Ditambahkan dua bagian air lalu
dikocok kuat-kuat, suatu volume air yang sama banyak dengan minyak ditambahkan
sedikit demi sedikit sambil terus dikocok, setelah emulsi utama terbentuk,
dapat diencerkan dengan air sampai volume yang tepat.
4.
Metode Penyabunan In
Situ
a.
Sabun Kalsium
Emulsi
a/m yang terdiri dari campuran minyak sayur dan air jeruk,yang dibuat dengan
sederhana yaitu mencampurkan minyak dan air dalam jumlah yang sama dan dikocok
kuat-kuat. Bahan pengemulsi, terutama kalsium oleat, dibentuk secara in situ
disiapkan dari minyak sayur alami yang mengandung asam lemak bebas.
b.
Sabun Lunak
Metode
ini, basis di larutkan dalam fase air dan asam lemak dalam fase minyak. Jika
perlu, maka bahan dapat dilelehkan, komponen tersebut dapat dipisahkan dalam
dua gelas beker dan dipanaskan hingga meleleh, jika kedua fase telah mencapai
temperature yang sama, maka fase eksternal ditambahkan kedalam fase internal dengan
pengadukan.
c.
Pengemulsi Sintetik
Alat
yang digunakan dalam pembuatan emulsi, untuk pembuatan emulsi yang baik.
1.
Mortar dan stamper
2.
Botol
3. Mixer, blender
4. Homogenizer
5. Colloid mill
Alat – alat yang digunakan dalam pembuatan emulsi untuk
membuat emulsi biasa digunakan :
1.
Mortir dan stamper
Mortir dengan permukaan kasar
merupakan mortir pilihan untuk pembuatan emulsi yang baik.
2. Botol
Mengocok emulsi dalam botol secara
terputus-putus lebih baik daripada terus menerus, hal tersebut memberi kesempatan
pada emulgator untuk bekerja sebelum pengocokan berikutnya.
3. Mixer, blender
Partikel fase disper dihaluskan
dengan cara dimasukkan kedalam ruangan yang didalamnya terdapat pisau berputar
dengan kecepatan tinggi , akibat putaran pisau tersebut, partikel akan
berbentuk kecil-kecil.
4. Homogeniser
Dalam homogenizer dispersi dari
kedua cairan terjadi karena campuran dipaksa melalui saluran lubang kecil
dengan tekanan besar.
5. Colloid Mill
Terdiri atas rotor dan stator dengan
permukaan penggilingan yang dapat diatur. Coloid mill digunakan untuk
memperoleh derajat dispersi yang tinggi cairan dalam cairan.
Dikenal beberapa cara membedakan tipe emulsi yaitu :
1.
Dengan
pengenceran fase.
Setiap emulsi dapat diencerkan
dengan fase externalnya. Dengan prinsip tersebut, emulsi tipe o/w dapat
diencerkan dengan air sedangkan emulsi tipe w/o dapat diencerkan dengan minyak.
2. Dengan pengecatan / pemberian warna.
Zat warna akan tersebar dalam emulsi
apabila zat tersebut larut dalam fase external dari emulsi tersebut.
Misalnya ( dilihat dibawah mikroskop ) .
Emulsi + larutan Sudan III dapat
memberi warana merah emulsi tipe w/o, karena Sudan III larut dalam minyak.
Emulsi + larutan metilen blue dapat
memberi warna biru pada emulsi tipe o/w karena metilen blue larut dalam air.
3.
Dengan
kertas saring.
Bila emulsi diteteskan pada kertas
saring, kertas saring menjadi basah maka tipe emulsi o/w,dan bila timbul noda
minyak oada kertas berarti wmulsi tipe w/o.
4. Dengan konduktivitas listrik
Alat yang dipakai adalah kawat dan
stop kontak, kawat dengan tahanan 10 K ½ watt , lampu neon ¼ watt, dihubungkan
secara seri. Elektroda dicelupkan dalam cairan emulsi. Lampu neon akan menyala
bila elektroda dicelupkan dalam cairan emulsi tipe o/w, dan akan mati bila
dicelupkan pada emulsi tipe w/o .
Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami hal-hal seperti
dibawah ini :
1. Creaming
Yaitu terpisahnya emulsi menjadi 2
lapisan, dimana yang satu mengandung fase dispers lebih banyak dari pada
lapisan yang lain. Creaming bersifat reversible artinya bila
dokocok perlahan-lahan akan terdispersi kembali.
2. Koalesan dan cracking ( breaking )
Yaitu pecahnya emulsi karena film
yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesan ( menyatu ).
Sifatnya irreversible ( tidak bias diperbaiki ). Hal ini dapat terjadi
karena :
Peristiwa kimia, seperti penambahan
alkohol, perubahan pH, penambahan CaO / CaCl2 exicatus.
Peristiwa fisika, seperti pemanasan,
penyaringan, pendinginan, pengadukan.
3. Inversi
Yaitu peristiwa berubahnya
sekonyong-konyong tipe eulsi w/o menjadi o/w atau sebaliknya. Sifatnya irreversible.
§
Kelebihan
:
a.
Dapat
membentuk sediaan yang saling tidak bercampur menjadi dapat bersatu menjadi
sediaan yang homogen dan bersatu dan mudah ditelan.
b.
Dapat
menutupi rasa yang tidak enak pada obat.
· Kekurangan :
a. Kurang praktis dan staabilits rendah
dibanding tablet.
b. Takaran dosis kurang teliti.
·
Keuntungan
emulsi
- Menurut Lachman:
1. Bioavalaibilitas besar
2. Onset lebih cepat
3. Penerimaan pasien mudah diberikan pada
anak-anak
4. Rasa obat, minyak jeruk bisa ditutupi oleh
penambahan zat tambahan lain.
5. Formulasi, karena bisa mempertahankan
stabilitas obat yang larut dalam minyak.
- Menurut Ansel:
1. Menurut eleganti tertentu dan mudah
dicuci.
2. Dapat mengontrol penampilan, viskositas
dan derajat kekasaran dari emulsi.
3. Sebagian besar lemak dan pelarut untuk
lemak yang dimasukkan untuk pemakaian ke dalam tubuh manusia, relatif memakan
biaya, akibatnya pengenceran yang aman dan tidak mahal.
·
Kerugian emulsi
- Menurut Lachman
1.Sulit diformulasikan karena harus mencampur
2 fase yang tidak tercampurkan.
2. Mudah ditumbuhi oleh mikroba karena adanya
air.
3. Kestabilan fisika dan kimia terjamin dalam
waktu lama.
- Menurut Ansel
1. Emulsi merupakan suatu campuran yang tidak
stabil secara termodinamika.
2. Jika pengocokan ditentukan, tetesan akan
bergabung menjadi satu dengan cepat.
3. Biasanya hanya satu fase yang
bertahan dalam bentuk tetesan.
Makasih yah buat artikel ini bisa menambah pengetahuan lagi��
BalasHapusNice
BalasHapus